Kumpulan Rahasia Sukses Pengusaha - Inspirasi

10/30/2012

6 Rahasia Sukses Berwirausaha
1. Alasan

Temukan alasan yang kuat mengapa anda ingin berwirausaha. Apakah karena susah cari pekerjaan, atau ingin merasakan menjadi seorang bos, bisa juga ingin mendapatkan penghasilan yang tak terbatas. Alasannya bisa apa saja, yang terpenting semakin kuat alasan anda untuk berwirusaha maka semakin fokus anda pada tujuan anda.

2. Keyakinan Yang Kuat

Anda harus memiliki kepercayaan yang kuat dan positif. Contohnya : anda yakin bahwa anda bisa menjadi seorang wirausaha yang sukses, atau wirausaha itu mudah asal kita tahu caranya. Keyakinan yang positif seperti itulah yang harus anda bangun. Jangan sampai yang negatif yang justru mendominasi pikiran anda. misalnya seperti : saya takut gagal, wirausaha itu perlu bakat, dll. Pikiran negatif seperti itu harus anda singkirkan jauh-jauh.

3. Impian yang Jelas

Anda harus memiliki impian yang jelas. Karena dengan impian itu anda akan termotivasi untuk meraihnya. Jangan takut untuk memiliki impian yang tinggi. Karena semakin tinggi impian anda tentunya akan memberikan daya dorong yang lebih besar pada diri anda. Akan tetapi tetap harus bersikap fleksibel dan jangan sampai impian anda sesuatu yang mustahil bisa dicapai.

4. Penguasaan Ilmu (Belajar)

Dalam memulai wirausaha kita dituntut untuk terus belajar dan memiliki pikiran yang terbuka. Kita bisa belajar dari buku, orang lain yang sudah menjalankan bisnis, ataupun dari seminar-seminar.

5. Aksi

Langkah inilah yang paling penting dalam berwirausaha. Karena tanpa aksi tidak akan ada yang terjadi. Hanya dengan aksi atau tindakanlah kita bisa semakin dekat dengan impian kita.

6. Doa

Langkah yang ke-6 adalah do’a. Karena bagaimanapun kerasnya usaha kita, tetap saja Tuhan jugalah yang menetukan. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berusaha.

Semoga tips ini bisa bermanfaat buat temen-temen yang ingin mulai berwirausaha.

Sumber : http://artikelmu.com/6-rahasia-sukses-berwirausaha/




Beragam bidang menjadi lahan para pengusaha muda untuk meretas jalan di dunia bisnis.  Mulai dari bisnis kafe, restoran, butik, rumah produksi (production house), perkapalan, bahkan hingga penerbangan.  Memang tidak mudah menjalankan bisnis di usia muda, mempertahankan, dan bahkan meraup untung.  Ide, agresivitas, inovasi, dan keuletan tampaknya menjadi kunci sukses mereka. Berikut profil 50 pengusaha muda di bawah 35 tahun yang mampu bertahan, dan bahkan menuai untung dalam berbisnis.
Hendy Setiono Pengusaha Muda Pemilik Kebab Turki Baba Rafi
Mungkin nama Hendy Setiono belum familiar di telinga Anda.  Namun tahukah Anda kalau perusahaan yang ia pimpin beromzet lebih dari Rp 1.000.000.000 per bulan.  Ya, anak muda asal Surabaya ini adalah Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi Surabaya.  Kebab Baba Rafi berdiri sejak September 2003 hingga kini telah memiliki 100 outlet di 16 kota yang tersebar di seluruh Indonesia.  Dengan bisnis kebabnya ini, Hendy Setiono dinobatkan oleh majalah Tempo edisi akhir 2006 sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia.  Sebuah prestasi yang cukup membanggakan mengingat usianya baru menginjak 25 tahun.  Ide mendirikan bisnis kebab berawal ketika pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983 ini mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Ia mengamati kedai kebab banyak dikunjungi warga setempat.  Karena penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan tersebut.  Ternyata rasanya sangat enak dan terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timur Tengah yang menyebar di berbagai kota.
Sekembalinya di Surabaya, Hendy langsung menyusun strategi bisnis. Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari partner, yaitu Hasan Baraja, Kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner.  Dengan tidak bermaksud asal-asalan, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.  Pada September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy beralasan bahwa memproduksi gerobak lebih mudah daripada harus membuat kedai permanen.  Modalnya sedikit, fleksibel dan bisa berpindah-pindah lokasi.  Tentang nama Baba Rafi sendiri ternyata terinspirasi dari nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. Baba Rafi yang berarti bapaknya Rafi. Lebih bagus daripada nama Kebab Pak Hendy yang terdengar kurang komersial.
Keinginan Hendy berwirasusaha ini awalnya tidak mendapatkan restu dari kedua orangtuanya.  Mereka menginginkan Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya.  Terlebih lagi ternyata Hendy harus memutuskan berhenti dari bangku kuliah di tahun kedua Fakultas Teknik Informatika Institut Teknologi Surabaya.  Restupun semakin sulit didapat.  Namun, dengan semangat baja, Hendy ingin membuktikan bahwa bisnis kebabnya ini akan berhasil dan bukan sekedar proyek iseng.
Semua berbuah hasil ketika hanya dalam 3-4 tahun, sulung dari dua bersaudara pasangan Ir. H. Bambang Sudiono dan Endah Setijowati ini berhasil mengembangkan sayap di mana-mana.  Bahkan, hingga pengujung 2006, telah tercatat 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tahun 2008, telah berkembang menjadi 300 outlet dari Aceh sampai Ambon.
Sukses bisnis kebab yang dikonsep dengan sistem waralaba dan manajemen yang solid, membuat Hendy mendapatkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 oleh menteri Koperasi dan UKM, ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006, penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 oleh Profesi Indonesia, Terbaik I Wirausaha Muda Mandiri 2007 dari Bank Mandiri, Best Franchise 2007 Category of Food & Beverages dari Pengusaha Magazine, Best Achievement at Young Entrepreneurs Award 2007 dari Bisnis Indonesia dan berbagai perhargaan lainnya.  Kini mimpinya adalah mengembangkan usahanya ke mancanegara seperti Malaysia dan Thailand.  Tidak hanya itu, sudah ada tawaran untuk membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja.
Salah satu pengusaha muda yang sukses di Gresik adalah Syafir Yakup dengan panggilan Caping.  Penampilannya yang ramah dan kalem, Caping bersedia dijadikan nara sumber pemberitaan tentang kesuksesan pengusaha Bawean di Gresik.
Menurut Caping, dirinya pertama merintis usaha sejak tahun 1997 di Gresik sebagai agen penjualan tiket Kapal Jet Foil. Sejak itulah perkembangannya cukup bagus dan prospek besar untuk bergerak di bidang biro jasa perjalanan.
Sekarang Caping sedang menggeluti dua bisnis, yaitu sebagai biro jasa dari perwakilan PT Artha Guna Wisata di Gresik dan pencucian mobil Baita Motor di jalan Usman Sadar Gresik.
Menurut Caping, “biro jasa penjualan tiket secara online 24 jam banyak melayani orang-orang Bawean dengan tujuan Malaysia dan Batam.  Hampir setiap hari ada saja orang Bawean yang memesan tiket melalui saya,” kata Caping.
Caping selain sukses sebagai pengusaha muda, ternyata juga aktif di organisasi sebagai sekretaris Pemuda Bawean Gresik (PBG), pengurus KWBG, dan manajer Bawean FC.
Semangat pantang menyerah dalam membangun bisnis membawa Brian Arfi Faridhi (23) tahun menjuarai Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2009.
Wirausaha merupakan profesi yang luar biasa.  Makanya tidak semua orang bisa menjadi wirausaha sejati.  Sebab, dia harus siap bekerja keras, tidak gampang menyerah, harus memiliki mental juara dan siap dihina-hina orang.  Itu alasan juri memilih saya sebagai pemenang karena sudah bolak-balik mengalami jatuh bangun dalam bisnis, ujar Brian, pengusaha muda kreatif di bidang IT, ketika menjawab pertanyaan pengunjung Expo Wirausaha Mandiri di Jakarta Convention Center (JCC), pekan lalu.
Brian, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, tampil dalam expo tersebut karena berhasil menjadi pemenang pertama bidang usaha kreatif WMM 2009.  Brian yang tahun lalu berhasil menembus omzet Rp 559.000.000 itu adalah salah satu dari 98 peserta expo.  Seluruh peserta merupakan alumni WMM. Hingga kini, WMM yang diadakan Bank Mandiri sudah berlangsung empat kali.
Di stan Brian, pemilik PT DheZign Online Solution, dipajang piala penghargaan WMM 2009.  Piala itu diserahkan langsung oleh Wapres Boediono, Jumat (22 Januari) lalu.  Stan tersebut juga memajang papan data yang menampilkan foto Brian dan keterangan mengenai perusahaannya.  Brian mengatakan, data yang ditampilkan banyak yang tidak akurat. Misalnya, disebutkan tahun 2009 dia meraih untung. Padahal sesungguhnya, Brian rugi Rp 14 juta.
Mendengar itu, seorang ibu yang berada di stan Brian, langsung berkomentar, “Lho, kok pemenang WMM bisnisnya rugi? Apa nggak salah, tuh?” Brian spontan menjawab, “Lho, Bu, yang namanya pengusaha harus berani rugi. Tahun lalu, omzet kami naik dua kali lipat. Tapi karena melakukan ekspansi, kami jadi rugi,” tambah pria kelahiran Surabaya, 31 Mei 1986.
Sumber pendapatan Brian berasal dari bisnis IT dan toko online yang menjual perlengkapan busana muslim.  Ke depan, Brian merencanakan ekspansi dengan memperkuat divisi bisnis pengembangan web.  Itu sebabnya tahun lalu dia banyak merekrut Sumber Daya Manusia di bidang Web Programming.  Nanti saya akan fokus ke pasar Jakarta karena prospeknya lebih cerah dibanding Surabaya.  Saya sendiri sudah sekitar tiga bulan di Jakarta, tapi anak istri masih di Surabaya.
Menurut Brian, dia mulai mengembangkan  bisnis IT pada tahun 2006.  Saat ini dia fokus melayani orang yang mau menggunakan media online untuk kegiatan marketing.  Untuk membangun toko online, minimal kami mengenakan biaya senilai Rp 20 juta.  Kami siapkan pula program garansi 100 persen uang kembali, bila konsumen tidak puas, tambah Brian yang juga siap membantu pengusaha pemula memiliki toko online secara free.
Jualan di kampus
Sejak umur 18 tahun Brian sudah berani berjualan parfum di lapak kampus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.  Dia tidak peduli teman-temannya di kampus meledek kegiatannya itu.  Brian juga pernah berjualan jus di pinggir jalan. Kalau dagangan tidak untung, saya langsung ganti dengan dagangan lainnya. Sedih sih kalau gagal karena saya orang yang tidak suka kalah.
Dilihat dari kepribadiannya, Brian sosok yang tidak suka dengan pekerjaan yang rutin.  Makanya, meski sudah bolak-balik bisnisnya bangkrut, Brian tidak pernah terpikir selesai kuliah akan bekerja di kantor.  Mungkin karena itu pula dia aktif menggali ide-ide usaha baru.
Tak hanya itu, Brian juga orang yang berani mewujudkan setiap gagasannya. Termasuk keberanian memilih menikah pada usia muda, yakni 18 tahun. Kalau mau usaha tidak perlu mikir modal.  Yang penting tekad yang kuat. Gila dan nekat,
Prinsip itu pula yang digunakannya saat mengembangkan bisnis online busana muslim maupun bisnis pengembangan web. Untuk membangun bisnis web development, Brian hanya mengandalkan istrinya sebagai programer dan modal satu komputer, satu printer, dan koneksi internet.  Setelah itu, ya sudah, dipasarkan.  Simpel. Modal lain, harus siap dimaki-maki konsumen, kerja keras dan harus memiliki mental juara,
Target akhir tahun 2010, setelah urusan bisnisnya selesai, dia akan membawa istri dan anaknya tinggal di Jakarta.  Saat ini dunia online di Indonesia sedang tumbuh. Tapi, pasar yang menjanjikan ada di Jakarta.  Saya sudah menyiapkan tenaga-tenaga ahlinya untuk merebut pasar tersebut.
Zulham, Dulu Penjual Bakso Sekarang Pengusaha Sukses
Dengan semangat kerja keras dan dibarengi jiwa entertainer yang dimiliki semenjak remaja, seorang penjual bakso berhasil merubah nasib yang kelam menjadi gemerlap menjadi pengusaha muda yang sukses.
Perjalanan hidup Anas Zulham (27), bisa sebagai inspirasi dan referensi bagi orang yang ingin meniti menjadi pengusaha sukses.  Betapa tidak, berawal dari seorang penjual bakso di depan pasar Lambaro, Aceh Besar, 11 tahun silam, kini telah menjadi seorang pengusaha sukses di Aceh.
Kesuksesan yang diraihnya sekarang, bukanlah semudah membalikkan telapak tangan, akan tetapi penuh dengan perjuangan yang berat.  Berkat kegigihan dan kesabaran, Zulham meniti perjuangan sebagai seorang penjual bakso gerobak, hingga kini telah mampu merubah garis nasib, menjadi pengusaha sukses.
Wartawan Rakyat Aceh, Sulaiman yang menyambanginya, di salah satu bangunan miliknya yang menyatu dengan pasar di kawasan Beurawae Banda Aceh, tidak ada yang menyangka bila melihat dari penampilan dan gaya bicaranya yang memperlihatkan Anas sebagai mantan penjual bakso.
Keberhasilan yang kini di dapat Alumnus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, bidang studi ilmu Manajemen tersebut rupanya tidak berjalan dengan mulus.
Zulham mengakui, menjadi pengusaha sukses sekarang ini sebelumnya telah malang-melintang membuka usaha kecil-kecilan mulai dari penjual bakso berlanjut membuka empat usaha yang pernah digelutinya seperti usaha café di jalan Mangkubumi Medan pada 1999, usaha internet service provider (ISP) di Banda Aceh tahun 2002.
Usaha Warnet Di Lingke Banda Aceh 2003 dan Impor Semen Cap Orang kuat Dari Malaysia 2005, namun semuanya gagal di tengah jalan.
Ia tak patah arang dan berputus asa, jiwa entertainer yang telah tertanam dan berakar rupanya tidak menyurutkan niatnya untuk menggapai kesuksesan.  Saya kemudian memperluas pergaulan dengan berorganisasai serta rajin mengikuti berbagai seminar tentang bagaimana menjadi seorang entertainer sejati, kegagalan bertubi-tubi kemudian dapat dijadikan sebagai guru paling berharga untuk mendongkrak semangat dan sebagai pembelajaran, kata pria kelahiran 30 Juni 1971.
Untuk memperkuat kapasitasnya sebagai enternainer pada tahun 2007 ia juga mengikuti Pendidikan Non Formal pada Study Visit To Singapore International Trade Institute Of Singapore(ITIS).
Setelah mendapatnya banyak ilmu, ia kembali terjun ke dunia usaha dan membuka toko meubel dan furniture di Banda Aceh sampa kini masih tetap eksis.
Ia juga pernah menjadi Divisi Marketing Hafara Furniture Jepara ( Teak Garden Export) 1996-1997.  Dengan modal semangat keseksesan mulai dirasakannya bertubi-tubi.
Ia kemudian pernah menjabat sebagai Divisi Finance Pt Sawita Abadi Medan (Kelapa Sawit Dan Logging) pada 1998 dan tahun 2003 sampai 2004 menjabat sebagai Komisaris PT Dinar Muda Nusantara Banda Aceh yang merupakan agen perjalanan umroh dari PT Maktour Jakarta.
Pada tahun 1999 ia juga pernah menjadi Wakil Direktur CV Dewi Permai Banda Aceh (Vendor PT Semen Andalas Indonesia).  Pada tahun 2000 menjabat sebagai Direktur CV Dwi Tunggal Permai Banda Aceh yang bergerak pada bidang Kontraktor dan Supplier.
Sampai saat ini ia juga masih memangku berbagai jabatan penting seperti Direktur Utama PT Gading Pattaya Banda Aceh (Tour &Travel), Direktur CV Gading Mas Sakti (agent asuransi surety bond Puri Asih Jakarta), dan Direktur CV Nuansa entertainment Banda Aceh (event organizer).
Belum sampai di situ saat ini ia juga menjabat sebagai Ketua umum Asosiasi Kontraktor Seluruh Indonesia (Askindo) Nanggroe Aceh Darussalam.  Ia menyatakan jiwa sebagai enternainer terus ia tularkan kepada para anggota Askindo di 23 kabupaten/kota di Aceh.
Sehingga nama Anas Zulham saat ini begitu familiar di kalangan pelaku dunia usaha di Aceh, ia menyatakan punya kiat tersendiri dalam mengahadap konsumen dan rekanan yaitu selalu mengerjakan sesuatu dengan penuh tanggung jawab.
Jika pelayanan yang kita berikan dari hati rekanan maupun konsumen akan puas terhadap kinerja kita, mereka akan terus merekomendasikan kehadiran kita kepada masyarakat, mencari keuntungan itu memang tujuan pengusaha dan kontraktor namun kualitas pekerjaan yang harus diutamakan.
Ia menegaskan para pengusah harus memprioritaskan pembangunan daerahnya dan menjadi yang utama ditahan sendiri dengan terus memperkuat kapasitas diri dan menjadikan sebagai pengusaha yang handal tahan banting dan tentunya yang lebih penting berkompeten dan tanggung jawab.
Hal itu menurut Anas yang terus dikatakan kepada anggota Askindo maupun saat menjadi pembicara di berbagai seminar baik yang didakan oleh mahasiswa LSM maupun NGO lokal dan asing, maka tak jarang, dalam mengisi pembangunan Aceh hari benar-benar pengusaha dan kontraktor berhati bersih.
Dalam menghadapi investasi dari luar negeri seperti yang sedang digenjot pemerintahan Aceh, Anas menyatakan Pemerintah harus melibatkan pengusaha lokal sebagai mitra agar dapat menjalin kerjasama dengan iklim investasi dari luar.
Dalam memajukan sector pembangunan dan ekonimi Investasi sangat penting bagi Aceh, para investor harus dijadikan mitra dan saling bekerjasama tentunya bisa melakukan tranfer data dan informasi,” kata ayah dua anak tersebut.
Aceh Pasca tsunami jelas Anas ibarat gunung emas yang perlo polesan dan banyak kontraktor mapun para investor berebut ingin masuk ke Aceh, oleh karena itu para pengusaha lokal dan kontraktor harus gerak cepat mencari peluang.
Dalam mengisi dan menghadapi pembangunan 2009 Anas kembali menekankan para kontraktor dan kalangan usaha harus mengedepankan profesionalitas dan harus paham betul apa spek tugas yang diambil, serta jangan hanya mencari keuntungan dan mengabaikan tugas dan tanggung jawab.
Menjadi pengusaha muda sukses jadi impian semua orang.  Tapi hanya sedikit yang bisa melakukannya. Di tengah kesibukannya berkutat dengan diktat kuliah, Elang Gumilang, 23 tahun sudah memiliki beberapa jenis bidang usaha dengan penghasilan bernominal sembilan digit.
Seperti halnya figur seorang wiraswastawan, jalan yang ditempuh mahasiswa semester akhir Fakultas Ekonomi Institut Pertanian Bogor ini mulanya tidaklah mudah.  Sejak SMA, penyabet Juara Pidato Bahasa Sunda di Bogor ini sudah berjualan donat dan roti di sekolah.
Perasaan malu dan lelah ditepisnya untuk mendapat recehan uang. Perlahan tapi pasti, uang itu digunakannya sebagai biaya masuk perguruan tinggi.  Di kampus,Elang cukup aktif mengikuti berbagai lomba dan kegiatan. Prestasinya cukup banyak.  Hasilnya, Juara Java Economics FEM IPB pada tahun  2003 berhasil mengumpulkan uang Rp10 juta yang kemudian dijadikan modal usaha berjualan sepatu dan supplier lampu.
Karena makin pintar berdagang, ia pun merambah ke usaha penyuplaian minyak kelapa sawit.  Setiap hari, ia harus mengangkat galon berisi minyak goreng ke tetangga sekitarnya.  Sadar apa yang dilakukannya adalah kerja otot bukan otak, Elang sempat putus asa dan ingin berhenti berusaha.
Sempat juga prestasi akademisnya turun.  Namun,perjuangan Elang tak sampai di situ.  Naluri bisnis peraih Juara 3 Kompetisi Ekonomi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia se- Jabodetabek 2003 ini lantas mendirikan kursus bahasa asing English Avenue.
Lembaga kursus tersebut didirikan atas dasar patungan dengan 11 temannya.  Diakui Elang, sangat susah mengelola lembaga pendidikan mengingat keterampilan untuk membuat kurikulum juga minim.  Namun, usaha yang dirintisnya ini lambat laun terus berkembang dengan bantuan teman-temannya.
Hingga kini, Elang hanya bertindak sebagai pemegang saham di lembaga kursus bahasa asing tersebut.  Pada tahun kedua kuliah, Juara 3 Marketing Games 2 FE Universitas Trisakti 2005 ini merambah ke bisnis properti.  Alih profesi ini bukan berarti saya kurang bersyukur atas hasil yang telah ada.  Namun, jika diberi kesempatan dan ada peluang bergerak di situ, kenapa tidak?
Alhasil, Elang mampu mengakuisisi lahan di dekat Kampus Dermaga IPB Bogor senilai Rp1,6 miliar.  Pantas saja, keuntungan yang diperolehnya pun berlimpah.  Belum lagi, Elang berhasil memenangi tender pekerjaan rehabilitasi Gedung Kantor Seksi Dinas Pendidikan Dasar Kecamatan Grogol Petamburan DKI Jakarta pada tahun 2006.
Ini hanya usaha bersama lima teman saya.  Nasib Ari Chandra Kurniawan, 24 tahun, lebih dramatis.  Ia mengubah hidupnya dari seorang penggemar kehidupan malam menjadi motivator bertaraf nasional.  Penghasilan yang didapatnya pun minimal delapan digit.
Ia pernah menjadi kuli panggul beras untuk membantu usaha orangtuanya.  Sejak berusia 9 tahun, Archan mencoba berbagai profesi.  Mulai penjual koran, penjual ikan, hingga membuat kacamata dari plastik bekas. Menginjak bangku kuliah, Archan terjun di dunia penjualan produk multi level marketing, CNI.  Tak jarang, Archan sempat mengalami penolakan dan cercaan saat menawari produknya.
Di sinilah mental wirausahanya diuji saat menawarkan produk dari pintu ke pintu. Bersama teman-temannya, Archan mendirikan sebuah event organizer (EO) dan telah berhasil menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan berskala nasional.Persinggungan dengan beragam teman membuat lulusan Sekolah Tinggi Manajemen Transpor Udara Universitas Trisakti ini masuk ke komunitas Jakarta breakdance.
Archan dengan komunitasnya sering diundang ke kafe maupun diskotik ternama di Jakarta. Sempat pula menjuarai kompetisi breakdance dan membintangi iklan sepatu.  Ia akhirnya menimba ilmu pada Reza M. Syarif M.A. MBA, seorang motivator dan grandmaster motivasi Indonesia, yang pernah masuk Museum Rekor Indonesia (MURI) saat menyelenggarakan seminar motivasi selama 24 jam nonstop.
Setahun menimba ilmu dari Reza M. Syarif, karier Archan langsung melesat.  Ia mendirikan Spinners Club, kumpulan anak muda berbakat, warung tenda 4Rest.  Saat ini dia menjadi Presiden Direktur PT Maha Andalan Gemilang di bawah bendera Maha Corporation yang bergerak di bidang general trading dan supplier.
Dengan gaya bicara lantang, Archan dijuluki ”sang provokator” dan saat ini menjadi trainer motivasi dengan mengantongi lebih dari 300 jam terbang. Cita-citanya adalah ”memprovokasi” para pemuda untuk berani menjadi entrepreneur dan berlomba dalam berprestasi.  Saya juga berniat akan membuat rekor dunia dengan memotivasi 170.845 pemuda saat peringatan Sumpah Pemuda 2010.  Pemuda jangan hanya membuat kisah, tapi harus membuat sejarah.
Agung Nugroho Pengusaha Muda Sukses di Bidang Laundry Kiloan
Jakarta, (GNI)- Peringati Hari Kebangkitan Nasional Fatigon Semangati Masyarakat untuk Produktif Untuk menuju masyarakat Indonesia yang produktif, sembari memanfaatkan momen Hari Kebangkitan Nasional, salah satu produk multivitamin, Fatigon, yang berada di bawah bendera PT Kalbe Farma, mengusung suatu program yang dinamakan “Aksi Semangat Indonesia Menuju Masyarakat Produktif”.  Program ini merupakan sebuah gerakan moral peduli produktivitas bangsa, dengan mengusung aktivitas positif yang sarat inspirasi,edukasi, kesehatan, serta hiburan.
Program ini diawali dengan kickoff pada hari ini, Rabu (19/5), yang bertempat di Marios Place, Jakarta, dengan menghadirkan beberapa orang endorser (bintang pendukung).  Di antaranya yaitu pendiri radio AS, Ahmad Solihun, serta pengusaha laundry kiloan Agung Nugroho Susanto. Acara tersebut sekaligus juga dihadiri oleh Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Pembinaan dan Produktivitas Kemenakertrans, Abdul Wahab Bangkona.
Selanjutnya dalam program ini, akan diadakan kegiatan “Fatigon Aksi Semangat Indonesia” setiap Senin pagi di perkantoran, dengan tujuan mengajak dan membiasakan karyawan di perkantoran tak datang terlambat. Lantas pada tanggal 6 Juni 2010 mendatang, Fatigon juga akan mengadakan serangkaian kegiatan massal di Parkir Timur Senayan, Jakarta, menyusul kemudian di Lapangan Makodam Surabaya dan Lapangan Tagalega, Bandung, serta di tempat-tempat lainnya.  Dalam kesempatan itu akan dilakukan kegiatan-kegiatan menarik bermuatan edukasi, seperti jalan bersama, aerobik, penciptaan rekor Muri membunyikan alarm weker dengan peserta terbanyak (dengan target 15 ribu), plus hiburan oleh band-band papan atas.
Menurut Direktur Sales dan Marketing PT Kalbe Farma, Widjanarko Lokadjaja, kegiatan ini disponsori oleh produk mereka Fatigon, yang merupakan multivitamin paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. “Besar harapan kami, melalui kampanye ini Fatigon bisa membantu mengingatkan dan mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali memiliki semangat kerja, semangat menjadi yang terbaik, sekaligus tentunya Fatigon selalu menjadi pilihan masyarakat dalam menjaga kesehatan dan membantu beraktivitas sehari-hari,”ungkapnya.
Dipaparkan pula, tahun 2010 ini merupakan tahun pertama berlangsungnya program “Aksi Semangat Indonesia Menuju Masyarakat Produktif” dengan memanfaatkan momentum Hari Kebangkitan Nasional.  Kami percaya Hari Kebangkitan Nasional ini dapat menjadi momentum (demi) mencanangkan program yang menjadikan masyarakat lebih produktif.
Saat wartawan Globalnews-indonesia.com mewawancarai salah satu endorser pendukung pengusaha laundry kiloan Agung Nugroho Susanto dari Yogyakarta ia mengatakan bahwa perjalanan hidup seseorang memang tidak pernah ada yang mengira akan jadi apa kita besok bahkan masa depan kita begitu juga Agung Nugroho yang dalam menjalani kehidupannya juga tidak pernah tahu akan jadi apa yang semula hanya melihat dan akhirnya mempunyai ide kreatif untuk mencoba terjun menjadi pengusaha laundry dengan merek dagangnya SimplyFresh.
Sebelumnya Agung juga mempunyai usaha di bidang Distro dan Counter HP tapi menurut Agung kedua bisnis tersebut ternyata gagal dan dalam bisnis Laundry baru sukses.  Hingga saat ini bisnis Laundry kiloannya sudah mencapai 130 outlet yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan otlet yang terbanyak ada di Jabodetabek dan hingga saat ini bisnis mencuci ini merupakan salah satu bisnis dengan sistem Franchise yang paling dicari oleh masyarakat yang ingin membuka usahanya.
Agung Nugroho Susanto. Sarjana Hukum, Alumni UGM saat ini omsetnya hingga milyaran rupiah per bulan.  Outlet loundry miliknya hingga kini sudah tersebar di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga ke Papua.  Usianya kini baru menginjak 25 tahun.  Usia ini masih relatif muda untuk seorang milyarder.
Pada tahun 2007 ia lulus dari dari Fakultas Hukum UGM, dengan IPK 3,7, kelurganya menyarankan agar dia bekerja di Bank Indonesia. Ternyata beberapa kali tes saya lulus dan terakhir hanya tes Wawancara,” kata Agung mengawali ceritanya.
Tes terakhir itu menurutnya hanya formalitas.  Dia yakin diterima delapan puluh persen.  Tetapi dia berani melawan kehendak orang tua.  Saya tidak ikut tes di BI tersebut.
Dirinya meminta kepada keluarga agar memberi waktu kepadanya untuk meneruskan perjuangan bisnis di bidang lain.  Saya yakin itu (Perjuangan) akan berhasil.
Kini Agung dalam usia yang masih relatif muda ini terus menggeluti bisnisnya di bidang laundry kiloan yang sudah tersebar di seluruh Indonesia, dengan sistem Franchise.
Akhirnya saya hinggap di usaha cucian ini.  Untuk menyikapi persaingan maka saya harus memiliki kelebihan dalam usaha ini, yaitu saya menambahkan aroma pewangi, garansi total jika ada kerusakan, dan yang terakhir adalah deterjen yang ramah lingkungan, bahkan bisa menyuburkan tanaman.  Simply Fresh kini menjadi laundry favorit para mahasiswa di Yogyakarta karena harga yang ditawarkan ke konsumen sangat murah.
Tubuh atletis, wajah tampan, berjiwa muda dan berwawasan luas.  Itulah gambaran sekilas tentang sosok usahawan muda Indonesia yang satu ini, pria kelahiran Jakarta 10 November 1974.  Dengan semangat jiwa muda dan wawasan luas yang ia miliki, ditunjang oleh pengalaman menempuh pendidikan tinggi di luar negeri, dia mampu menjalankan beberapa perusahaan besar sekaligus di bawah satu kontrol kepemimpinannya.  Bahkan, pebisnis muda lulusan M.B.A dari Stanford Graduate School of Business, California, Amerika Serikat, juga telah menunjukkan kepiawaiannya memecahkan berbagai persoalan dan kemelut yang beberapa kali hadir melanda perusahaan di tengah persaingan bisnis yang sangat ketat.
Anindya Novyan Bakrie, itulah nama lengkap putra pertama dari Menteri Koordinator Bidang Kesra di Kabinet Indonesia Bersatu, Aburizal Bakrie. Pengusaha yang lebih akrab disapa Pak Anin oleh para kolega bisnis dan stafnya ini, adalah Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk, perusahaan yang dikenal luas dengan produk telepon seluler tarif murah “Esia”.  Suami dari Firdiani Saugi dan ayah dari 3 anak – Alisha Anastasia Bakrie (P), Azra Fadilla Bakrie (P) dan Akila Abunindya Bakrie (L) – ini pernah “magang” di perusahaan PT Bakrie & Brothers Tbk. sebagai Deputi Kepala Operasi dan Direktur Pelaksana pada periode 1997-1999.  Ia selanjutnya mendapat amanat penuh dari orang tuanya untuk memimpin beberapa perusahaan milik keluarga, salah satunya PT Bakrie Telecom Tbk.
Sebagai seorang presiden direktur di perusahaan besar pertelekomunikasian Indonesia, khususnya yang berbasis teknologi CDMA, Anindya selalu mendapatan pelajaran baru dari setiap langkah bisnis yang ia lakukan dalam memajukan pertelekomunikasian di tanah air. Sebagai anak muda, ia tidak pernah berhenti belajar, menimba ilmu dan pengalaman dari para senior.  Hal ini tercermin dari jawaban pendeknya atas pertanyaan apa kiat dan rahasia keberhasilannya dalam mengelola usaha selama ini.  Saya belum pas untuk pertanyaan itu, karena saya sendiri masih belajar, belum punya kiat dan rahasia sukses.  Namun demikian, Anindya senantiasa terbuka kepada setiap orang yang ingin mencoba untuk mencontoh atau berbagi pengalaman sukses dalam mengelola bisnis di bidang telekomunikasi seperti yang digelutinya saat ini.
Selain menahkodai PT Bakrie Telecom Tbk, Anindya juga masuk dalam jajaran puncak memimpin beberapa perusahaan besar lainnya, yakni pada PT Lativi Media Karya (Lativi, yang berganti nama menjadi tvOne pada 14 Februari 2008 lalu) sebagai Presiden Komisaris, PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) sebagai Presiden Direktur, dan di perusahaan Capital Managers Asia Pte., Ltd. (berpusat di Singapura) sebagai Chief Operating Officer.  Dengan jabatan pimpinan di berbagai lembaga bisnis tersebut, dapat dibayangkan betapa sibuknya seorang Anindya bekerja dan berkarya mencapai tujuan usaha yang sedang ditekuni.  Oleh karena itu, kesediaan tokoh pengusaha muda belia yang juga aktif di organisasi Kadin Indonesia sebagai Ketua Komite Tetap bidang Komunikasi dan Penyiaran ini menerima tim redaksi Harian Online KabarIndonesia (HOKI) di ruang kerjanya di Wisma Bakrie, Kuningan – Jakarta, untuk sebuah wawancara eksklusif beberapa waktu lalu menjadi sebuah momen langka dan amat istimewa.
Anindya ternyata seorang yang sederhana, bila tidak dapat dikatakan sangat bersahaja.  Seperti layaknya pemuda pribumi Indonesia kebanyakan, ia terlihat biasa saja, ditunjang oleh sifat santun yang amat kentara jauh dari kesan bahwa ia seorang konglomerat kaya-raya; penampilannya saat itu menepis anggapan bahwa anak-anak pejabat menyenangi kehidupan glamour dan angkuh. Senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya menambah “tenteram” suasana hati setiap tetamu yang hadir, ditambah percakapan bersahabat disertai tawa lepas ciri khas lelaki muda yang mudah bergaul dengan semua kalangan.
Anindya adalah seorang Muslim yang taat. Hal ini tercermin dari seringnya ungkapan syukur yang terlontar dari mulutnya di sela-sela pembicaraan; menurut rekan-rekannya ia juga rajin beribadah. Lulusan BSc. dari Northwestern University, Illionis, Amerika Serikat, yang pada pertemuan beberapa waktu lalu itu mengenakan kemeja biru terang dan celana jeans, terkesan kuat memiliki aura kepemimpinan yang amat baik. Dalam penampilan yang bersahaja itu ia tetap terlihat sebagai seorang pemimpin profesional, yang tercermin juga dari tutur kata serta gaya berbicara yang terstruktur, analisis, bervisi jauh ke depan, serta memiliki bobot keilmuan yang tinggi.
Sesungguhnya seorang Anindya bukanlah apa-apa walau ia terlahir dari keturunan keluarga mapan dan kaya mulai garis keluarga kakeknya, alm. H. Achmad Bakrie. Usaha yang dirintis dan dijalankannya saat ini, bila boleh dikatakan berhasil, itu tidak lepas dari kemampuan individu-nya sebagai seorang usahawan. “Darah bisnis” bawaan dari orang tuanya mungkin saja menjadi modal besar dalam mengelola suatu usaha. Dan hal tersebut lebih bermakna ketika Anindya telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjadi pebisnis melalui pendidikan hingga ke tingkat Master ditambah kegigihannya menimba ilmu filosofi bisnis dari alm. kakeknya.
“Dalam hidup ini, terutama ketika menggeluti sebuah usaha, hal yang perlu ditanamkan adalah bahwa apapun yang dilaksanakan harus bermanfaat dan berguna bagi banyak orang,” demikian pesan kakeknya seperti dituturkan Anindya. Sebuah filsafat hidup sarat makna yang amat fundamental sebagai landasan berpijak dalam setiap kegiatan yang kita inginkan berhasil dengan baik. Hampir semua orang pernah mendengar dan tahu dengan pesan “moral” itu, namun tidak banyak yang mampu melakukannya dengan konsisten. Padahal, justru prinsip tersebut merupakan salah satu penentu berhasil-tidaknya seorang pengusaha.
Kalkulasi kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan adalah salah satu pesan penting Anindya bagi sesama generasi muda serta penerus bangsa. Menurutnya, saat ini, komposisi penduduk Indonesia menunjukkan bahwa 65% adalah penduduk usia di bawah 35 tahun. Masa depan bangsa dan negara Indonesia pada 15 atau 20 tahun mendatang ditentukan oleh generasi yang 65% itu. Oleh karenanya, keadaan Indonesia pada 15 atau 20 tahun akan datang dapat diprediksi dengan melihat karakter dan keadaan generasi muda saat ini. Artinya, para pemuda dan generasi remaja perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menyongsong masa 20 tahun nanti itu.
“We are living in an interesting time,” kata Anindya menggambarkan bahwa generasi muda saat ini sedang hidup di zaman yang amat menarik penuh tantangan. Yang oleh sebab itu, mereka perlu memiliki karakter inovator dan kreator handal jika ingin bangsa dan negaranya maju, tidak tertinggal lebih jauh dari bangsa-bangsa lain. Satu kebanggaan bagi Anindya adalah bahwa dari data survey, terdapat 85% pebisnis Indonesia di Usaha Kecil Menengah (UKM) adalah generasi muda. Ini mengindikasikan bahwa semangat membangun dan berkarya kalangan muda cukup baik.
Percakapan dengan mantan analis keuangan Salomon Brothers Inc. (New York) ini makin hangat ketika HOKI memintanya untuk memberi penjelasan tentang konsep dasar menyediakan layanan telekomunikasi telepon seluler Esia dengan tarif yang dinilai “amat murah” kepada masyarakat. Anindya, yang saat ini aktif sebagai Sekretaris Jenderal The Asia Pasific Media Forum, dengan bersemangat menguraikan panjang lebar tentang landasan logis untuk berani tampil berbeda dari lembaga penyedia jasa telekomunikasi lainnya di tanah air.
Secara gampang, ia mengambil contoh pengalaman dari dunia penerbangan Indonesia yang telah memunculkan “pemenang” dari kelompok maskapai baru yang notabene “baru seumur jagung” dibandingkan pemain lama. Sebutlah Air Asia dan Lion Air yang dalam waktu tidak lebih dari 3 tahun tampil sebagai perusahaan penerbangan papan atas di tanah air melalui konsep tiket murah, dan bahkan terbang gratis selama setahun. Kenyataan ini merefleksikan bahwa keuntungan tidak hanya dapat dihitung dari seberapa besar selisih modal dengan penjualan, tetapi melalui perhitungan berapa banyak produk yang terjual. Kongkritnya, walau keuntungan satuan barang kecil tetapi terjangkau oleh lebih banyak konsumen, maka keuntungan tetap akan diraih oleh sebuah perusahaan, apapun jenis usahanya.
Fenomena tarif murah Esia kembali membuktikan bahwa filosofi “kebermanfaatan bagi orang banyak” serta “kesederhanaan”, tidak perlu mahal, adalah sebuah prinsip hidup yang bernilai kebenaran. “Tidak penting banyak untung dalam sekejap, yang paling dibutuhkan adalah konsistensi dan kontinuitas. Harga murah itu penting bagi sebagian besar masyarakat kita, dan bila dalam harga murah itu kita masih bisa memetik keuntungan walau sedikit, mengapa kita ragu untuk melakukan bisnis dengan harga murah?” demikian komentar Anindya setengah bertanya.
Berdasarkan pengalaman di tahun 2007 lalu, dimana Esia dapat membukukan 3,8 juta pelanggan produk perusahaannya, Anindya yang menyukai olahraga lari marathon ini, menargetkan pencapaian angka 7 juta pelanggan Esia pada tahun 2008. Angka itu diharapkan dapat bertambah hingga 10,5 juta di tahun 2009, dan ia optimis di akhir 2010, Esia akan digunakan oleh tidak kurang 14 juta pelanggan. Pencapaian angka spektakuler itu tentu bukan sesuatu yang mudah, di tengah persaingan yang amat ketat di antara para pebisnis telekomunikasi yang semakin bertambah jumlahnya. Namun, semangat jiwa muda yang dibarengi oleh kemampuan melakukan inovasi menjadi kunci sukses bagi seorang Anindya Novyan Bakri.
Sukses Besar Pengusaha Muda Donat Bakar
Niat Oily Purnama Sari jadi entrepreneur bermula usai mengikuti Ciputra Entrepreneurship di UGM.  Bekal tiga bulan pelatihan mampu menyibak wawasan Sarjana Elektro itu.  Kini ia jadi pengusaha muda donat bakar VERI VLORIDA, Jakarta.
Setelah lulus pada tahun 2007, Oily sempat mengisi kegiatannya dengan bekerja di sebuah perusahaan roti di Yogyakarta.  Ketika itu ia mengaku belum memiliki bekal pengetahuan di bidang entrepreneurship.  Namun naluri bisnisnya diuji coba ketika Oily mengikuti pelatihan Ciputra Entrepreneurship di Pasca Sarjana UGM.
Menurut Oily, selama tiga bulan peserta pelatihan mengikuti bimbingan materi pelajaran dan membuat konsep bisnis.  Pada minggu kedua mereka mengikuti progran Crown I sebagai kegiatan pertama untuk memulai bisnis. Modal awalnya Rp 500.000,-.  Dana itu lalu dikelolanya dengan berjualan suvenir atribut UGM.  Pada program Crown II setiap kelompok diberikan modal pinjaman Rp 1.000.000,- Dana itu digunakan Oily dengan mencoba berbisnis donat.  Yang ada di benak saya ucapan Pak Ciputra berbisnis harus melakukan inovasi.
Termasuk berbisnis donat yang biasanya dibuat dari terigu namun ia mencobanya dengan menggunakan bahan baku ubi jalar.  Nama produknya yakni Donatello yang artinya tello dalam bahasa Jawa adalah ubi.  Produk itu
dijajakan di bazar yang digelar di kampus UGM setiap Minggu pagi.  Ternyata peminatnya banyak.  Sebab rasanya jauh lebih empuk tak ubahnya seperti menikmati kentang Itu resep baru.  Selama ini biasanya donat dibuat hanya dengan menggunakan terigu.
.Belum puas dengan hanya satu temuan.  Oily lantas mengolahnya lagi. Kali ini resepnya baru.  Ia mencoba donat bakar.  Donat bakar itu disajikan dalam bentuk tusuk sate lalu diberi nama donat Dboom.  Ada beberapa pilihan rasa untuk temuan barunya itu.  Peminatnya beraneka ragam, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Kini Oily sukses membawa merek dagangannya yang mulai dikenal di kalangan kampus dan pusat perbelanjaan.  Bisnisnya terus dikembangkan dengan membuat jaringan bisnis dengan sistem bermitra.  Misalnya dengan perusahaan katering dan orderan resmi seperti orang kantoran.
Cara itu lebih jitu sebab keuntungannya sudah bisa dihitung secara cermat.  Memulai jadi pengusaha bisa dilakukan dengan apa yang ada.  Jika belum memiliki home industri, orang boleh-boleh saja bermitra dengan pihak kedua.  Yang penting harus tetap melakukan branding terhadap produk sendiri.
Sebelum memulai usahanya itu Oily sebetulnya sempat ragu-ragu dengan sikap keluarga.  Sebab orangtuanya menginginkan setelah lulus Oily bisa bekerja di perusahaan atau pemerintahan.  Sikap itu membuat Oily tertantang untuk menekuni usahanya dengan gigih.  Kini ia malah sibuk mengikuti workshop dan seminar entrepreneurs di berbagai lembaga dan sekolah.
Saya sudah merasakannya.  Saya berjanji mengabdikan ilmu itu dengan membagi pengalaman serta menyebarkan entrepreneurs kepada keluarga dan teman.  Bahwa entrepreneurs bukan karena faktor keturunan.  Selain keluarga, entreprenurs bisa didapat dari lingkungan dan mengikuti pelatihan.
Kunci utama untuk sukses adalah kerja keras. Jangan pernah mengharapkan hasil yang maksimal dengan usaha minimal, Denni Andri, President PT Taka Turbomachinery Indonesia
Denni Andri adalah owner sekaligus President dari PT. Taka Turbomachinery Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Mechanical & Industrial Engineering Industry.  Bermula dari sebuah bengkel mesin yang berlokasi di Bandung, perusahaan ini kemudian berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan yang mampu memperbaiki turbine dan compressor pump skala raksasa di Indonesia.  Saat ini PT Taka telah sangat berpengalaman dalam industrial pump repair, steam turbine repair dan gas turbine component repair dengan klien-klien seperti Pertamina, Indonesia Power, Torishima Guna, Kepindo dan Chevron Pasific Indonesia.  Perusahaan yang dibangun dengan modal awal 60 juta ini, sekarang telah memiliki 150 orang pegawai, luasan fasilitas kantor dan workshop sekitar hampir 6000 m2 dan total aset senilai 80 Milyar.
Memulai dari Nol
Lulus dari jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung, Denni bekerja secara freelance di bidangnya.  Pada tahun 1997 ketika krisis ekonomi menerpa, Denni kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Para kliennya malah harus melepas pegawainya.  Kesulitan ini malah menjadi awal bagi Denni untuk memulai membangun bisnis sendiri.  Berangkat dari ketertarikannya di bidang mesin dan mekanik sejak kecil, ia membuka bengkel permesinan umum. Dengan tidak memiliki background di bidang ini, tanpa ragu Ia menjalankan bisnisnya.  Saya memilih bidang ini karena minat dan menjalankannya secara learning by doing.  Customer pertama saya adalah bengkel mobil, ordernya membubut tromol rem, dengan nilai penjualan pertama 15 ribu rupiah.  Berbagai usaha dilakukan Denni untuk menjalankan bisnisnya.  Mulai dari meminjam uang pada orang tua sampai menjual mobil.  Dari tahun ke tahun, mobil saya turun terus.  Tahun 1999 Mobil Daihatsu Taft saya jual diganti Toyota Hardtop untuk membayar hutang orang tua.  Kemudian Hardtop dijual, diganti motor, sampai motor pun akhirnya saya jual dan saya naik angkot. Namun Denni tidak pernah putus asa dalam menghadapi semua kesulitan dan tantangan ini.  Ketika ditanya tantangan apa yang paling besar baginya ? Denni menjawab, tantangan itu selalu ada setiap saat dan Ia menganggap itu sebagai suatu proses yang harus dilewati, mengalir begitu saja.  Tantangan ada di setiap anak tangga yang harus didaki.
Denni tidak pernah merasa gagal.  Saat awal membangun bisnis, Ia berkali-kali ditolak bank.  Mungkin dua pasang sepatu habis solnya karena saya pakai berkeliling dari bank satu ke bank lain.  Sampai akhirnya salah satu bank menerima pengajuan kreditnya.  Saya gagal mendapatkan kredit dari beberapa bank tertentu, tapi saya tidak gagal mendapatkan kredit dari bank.  Kenapa banyak pengusaha gagal ?  Menurut Denni penyebabnya hanya karena kurang ulet, kurang gigih, kurang tahan cobaan dan kurang tahan banting.  Selain itu, Denni pun merasa bahwa Ia tidak pernah merasa susah.  Uang saya seribu saya happy, uang saya 1 juta saya happy, uang saya 100 juta pun saya happy. Bukan uang saya seribu kurang, 1 juta kurang, 100 juta juga kurang.  It’s about mindset.
Pemimpin yang Visioner
Berawal dari sebuah bengkel kecil dengan 2 orang karyawan, dalam kurun waktu 12 tahun Denni telah membangun PT Taka yang kini hampir mendominasi bisnis overhaul turbin, compressor dan pompa di Pertamina, PLN dan berbagai industri Kimia.  Mereka melakukan reblading turbine, rekondisi dan overhaul pompa, rebabbit sleeve bearing, dsb.   Selama 12 tahun  itu pula, Denni membangun sistem dan budaya dalam perusahaannya.  Saya kumpulkan dan bangun sumber daya manusianya, permesinannya, infrastrukturnya, sampai menjadi suatu sistem yang berjalan dengan baik.
Dulu semua peran saya jalankan sendiri.  Secara bertahap peran pimpinan keuangan saya lepas, lalu peran pimpinan  Human Resources, lalu peran Pimpinan Pemasaran.  Suatu saat nanti akan ada yang bisa mengambil peran saya sebagai presiden, dan saya tidak perlu ada disana lagi.  Saat ini, PT Taka telah menguasai 30-40% pangsa pasar dan menjadi nomor dua di bidangnya.  Denni menargetkan pada tahun 2012, PT Taka akan menjadi perusahaan nomor satu dan menjadi yang terbaik di Indonesia.  Namun mimpi Denni tidak berhenti hanya sampai di situ.  Setelah menjadikan Taka sebagai perusahaan nomor satu di Indonesia nanti, di tahun yang sama (2012) Ia berencana mendirikan perusahaan pembuat turbin pertama di Indonesia. Selama ini jika ada yang membutuhkan turbin selalu pergi ke Jerman atau Jepang, nantinya tidak perlu lagi.  Itu yang saat ini sedang saya bangun. Turbine-turbine pabrik kelapa sawit, pabrik gula, penggerak pompa di unit-unit utilitas industri kimia dan perminyakan, maupun juga pembangkit listrik skala kecil adalah sasarannya.  Denni pun masih memiliki rencana-rencana lain setelah nantinya berhasil mendirikan pabrik turbin.   Yang saya khawatirkan, jika saya merasa kenyang, maka saya akan malas.  Karena itu saya harus terus bergerak dan bergerak terus.
Kerja Keras dan Tidak Takut Mengambil Resiko
Denni sepertinya memang sudah memiliki bakat entrepreneur sejak kecil.  Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Ia pernah berjualan layangan.  Hal ini pun berlanjut sampai remaja.  Denni pernah mengasong berjualan jeruk dan duren di pasar saat SMA. Menciptakan sesuatu dan menghasilkan uang merupakan kebanggaan buat saya.  Saya ingin terus melakukannya.  Walau memiliki bakat entrepreneur, menurutnya kunci utama seorang pengusaha untuk  sukses adalah kerja keras.  Tidak mungkin sesuatu datang begitu saja tanpa kerja keras.
Jangan pernah mengharapkan hasil besar dengan usaha yang minimal. Jika ingin sukses, usahanya  harus maksimal.  Denny pun berpendapat, bakat yang hebat tidak menjamin orang akan sukses.  Harus didukung dengan knowledge dan kerja keras.  Jika bakat dan knowledge itu dikombinasikan dengan baik, Anda bisa menjadi seorang maestro.  Menurut Denni tidak ada kata terlambat atau pun terlalu cepat untuk menjadi seorang entrepreneur.  Saat paling tepat adalah mulai saat ini juga. “Just do it !! Lakukan sekarang, jangan hanya menjadi wacana.  Ia juga menyarankan, jika ragu melangkah menjadi entrepreneur karena takut akan resiko, bergaulah dengan orang-orang yang berani, maka keberanian itu akan tertular.  Carilah teman atau mentor yang tepat., atau bergaullah dengan orang yang bisa memberi motivasi. Dampaknya akan lebih hebat lagi.
Apa reaksi Anda saat melihat orang-orang yang berhasil di sekeliling kita?  Nampaknya ada dua kemungkinan yang biasanya terjadi, kita menjadi kecil hati dan memandang diri begitu kecil, atau sebaliknya kita menjadi terinspirasi untuk berusaha sekuat tenaga kita untuk bisa berhasil seperti mereka.
Untuk pilihan yang kedua, nampaknya hanya dikerjakan oleh segelintir orang saja.  Salah satunya adalah pria muda yang ramah dan energik ini, Chiat Peng, 34 tahun.  Ia adalah seorang tipikal pengusaha muda sukses ibukota yang menerapkan prinsip “bila dia bisa maka saya juga bisa” di dalam satu kegigihan dan kerja keras, bahkan dengan melihat orang-orang yang berhasil ia justru tertantang untuk melakukan hal yang sama.
Mengaku tidak memiliki prestasi yang demikian menonjol, tetapi satu inspirasi yang ia peroleh dari mereka yang ada di sekelilingnya telah membuat Chiat Peng memperoleh banyak kesempatan baik dalam hidupnya.  Salah satunya adalah saat ia menjadi staf pengajar di Universitas Tarumanagara. Saya tidak pernah terpikir untuk mengajar.  Dari sisi prestasi saya biasa-biasa saja, dari pengalaman mengajar, saya tidak punya apa-apa, akunya saat ia memulai karir mengajarnya sejak masih mahasiswa.  Ia juga terinspirasi oleh salah seorang dosen yang ia kagumi karena telah mengajar di masa mudanya, dan ternyata dosen ini juga yang mengajaknya ikut menjadi asisten pengajar hingga akhirnya terlibat menjadi salah satu pengajar di universitas swasta ternama ini.
Di tengah jalan, di kiri kanan banyak yang membuat saya lebih tertantang lagi.  Mereka kan juga makan nasi, saya juga makan nasi.  Kenapa dia bisa begitu, kok saya gak bisa?  Saya terinspirasi. Suatu hari, mungkin tidak setahun atau 2 tahun, saya bisa jadi seperti itu, saya bisa jadi seperti dia,” jelasnya menggambarkan bagaimana terinspirasi dan perasaan tertantang membawanya bekerja keras untuk mencapai seperti mereka yang berhasil di sekelilingnya.
Hal ini jugalah yang membawanya berangkat ke negeri Paman Sam untuk meraih gelar MBA.  Satu hal yang baginya tidak pernah dia impikan sebelumnya.  Untuk itu ia bersedia berjuang cukup keras, khususnya saat mengikuti test TOEFL yang ternyata harus dijalani berulang kali.  Ia harus mengatasi kejenuhan dalam mengulang mempelajari bahan yang sama beberapa kali, tetapi ia tetap persisten dan akhirnya berhasil melewatinya dan berhasil berangkat ke Amerika.
Berjuang di Negeri Orang
Setiba di Amerika justru baru memulai perjuangan yang baru.  Ia harus menghadapi kondisi keuangan yang cukup sulit saat Indonesia baru mengalami reformasi dan krisis ekonomi.  Ia tidak putus asa dan menyerah.  Ia mengajukan permohonan ke Dekan Universitas untuk dapat mempercepat masa studinya.  Untuk itu ia harus bekerja lebih keras dari mahasiswa-mahasiswa lainnya.  Ia bekerja part time menjadi assistant professor dan juga bekerja di Lab, dan karena ia mengambil lebih banyak mata kuliah untuk mempercepat penyelesaiannya, maka ia sudah terbiasa menghabiskan malam-malam dengan menulis paper hingga dini hari di perpustakaan.  Tidur hanya beberapa jam saja adalah makanan sehari-hari.  Tapi semua membuahkan keberhasilan saat ia menyelesaikan studi dengan cepat.
Tertantang Mencari Pengalaman Bekerja di New York
Setelah lulus ia tertantang untuk mencari pengalaman dengan bekerja di New York.  Seorang sahabatnya orang Amerika di kampus memberinya inspirasi, “This is the land of opportunity. If you say you can work here, you can be successful.”  Sebuah harapan dan keyakinan timbul dalam hatinya.  Dalam waktu sekitar dua bulan, sesuai dengan yang ia tergetkan, akhirnya ia mendapat pekerjaan menjadi Assistant to Marketing Director di salah satu perusahaan di New York.  Pengalaman ini justru menempa dirinya, terlebih lagi karena kendala bahasa yang jelas menuntutnya bekerja lebih keras lagi. Namun inilah yang menjadi batu loncatan menuju karir yang semakin matang di Indonesia.
Sukses Merupakan Tahap Demi Tahap
Chiat Peng memandang keberhasilan dengan bijak, namun hal ini membuatnya tidak pernah berhenti untuk meraihnya karena baginya selalu ada tahapan baru yang harus dilewati dengan kesuksesan, satu episode yang telah saya lalui itulah kesuksesan, tetapi masih ada episode berikutnya yang harus saya jalani.  Tahap demi tahap di mana setiap tahapan harus saya selesaikan itulah keberhasilan dan saya harus memasuki tahapan berikutnya lagi sampai satu tahapan yang saya sendiri tidak tahu.
Ia mengaku bahwa ia selalu termotivasi dan terinspirasi saat ia banyak melakukan traveling ke luar negeri dan bertemu dengan para pebisnis muda yang nampak sukses, maka ia kembali tertantang untuk mengikuti keberhasilan yang sama .
Tips yang selalu ia anut untuk mencapai kesuksesan adalah tidak cepat menyerah apapun kondisinya dan harus menjadi tegar dan kuat seperti batu karang dalam segala keadaan.  Ia yakin bahwa Tuhan sudah menciptakan setiap orang bukan untuk menjadi seorang yang gagal, namun apakah semuanya kembali tergantung kepada kita.  Apakah gagal atau berhasil, semuanya ditentukan oleh masing-masing kita.  Saya sangat percaya bahwa kesuksesan itu hak kita, namun mungkin jalannya saja yang berbeda satu sama lain.
Impiannya Kini
Chiat Peng kini memiliki impian membangun sebuah consulting company yang berfokus dalam bidang sales management.  Setelah saya lalu lalang di dunia sales selama 10 tahun, saya melihat banyak perusahaan-perusahaan yang masih membutuhkan adanya advice dalam selling skill.  Sosok muda ini sekarang memiliki satu tahapan yang baru dalam hidupnya yaitu membagikan pengalamannya dengan menjadi seorang trainer yang mampu menjadikan banyak perusahaan berhasil.  Kesuksesan baginya juga adalah dapat berbagi pengalaman dengan para mahasiswanya dengan satu harapan bahwa mereka akan berkembang lebih baik darinya.
Seperti yang selalu ia ucapkan pada dirinya sendiri, Jika orang lain bisa, mengapa saya tidak?  Dan hal ini membawanya selalu mampu melalui setiap jalan hidupnya, maka hal yang sama juga hendak dibagikannya kepada mereka yang akan mendengarkan pengalamannya sebagai seorang Coach.
Inilah Tjiauw Chiat Peng, sosok eksekutif muda yang memiliki prinsip hidup pantang menyerah dan justru selalu tertantang untuk mencapai yang lebih baik dalam hidupnya.
Putera Sampoerna
Penjemput Pasar Masa Depan
Putera Sampoerna, mengguncang dunia bisnis Indonesia dengan menjual seluruh saham keluarganya di PT HM Sampoerna senilai Rp18,5 triliun, pada saat kinerjanya baik.  Generasi ketiga keluarga Sampoerna yang belakangan bertindak sebagai CEO Sampoerna Strategic, ini memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan.
Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya.  Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis.  Sehingga pantas saja Warta Ekonomi menobatkan putra Liem Swie Ling (Aga Sampoerna) ini sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005.  Sebelumnya, majalah Forbes menempatkannya dalam peringkat ke-13 Southeast Asia’s 40 Richest 2004.
Putera Sampoerna, pengusaha Indonesia kelahiran Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947. Dia generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Adalah kakeknya Liem Seeng Tee yang mendirikan perusahaan rokok Sampoerna.  Putera merupakan presiden direktur ketiga perusahaan rokok PT HM Sampoerna itu.  Dia menggantikan ayahnya Aga Sampoerna.
Kemudian, pada tahun 2000, Putera mengestafetkan kepemimpinan operasional perusahaan (presiden direktur) kepada anaknya, Michael Sampoerna.  Dia sendiri duduk sebagai Presiden Komisaris PT HM Sampoerna Tbk, sampai saham keluarga Sampoerna (40%) di perusahaan yang sudah go public itu dijual kepada Philip Morris International, Maret 2005, senilai Rp18,5 triliun.
Pria penggemar angka sembilan, lulusan Diocesan Boys School, Hong Kong, dan Carey Grammar High School, Melbourne, serta University of Houston, Texas, AS, itu sebelum memimpin PT HM Sampoerna, lebih dulu berkiprah di sebuah perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia.  Kala itu, dia bermukim di Singapura bersama isteri tercintanya, Katie, keturunan Tionghoa warga Amerika Serikat.
Dia mulai bergabung dalam operasional PT HM Sampoerna pada 1980. Enam tahun kemudian, tepatnya 1986, Putera dinobatkan menduduki tampuk kepemimpinan operasional PT HAM Sampoerna sebagai CEO (chief executive officer) menggantikani ayahnya, Aga Sampoerna.
Namun ruh kepemimpinan masih saja melekat pada ayahnya. Baru setelah ayahnya meninggal pada tahun 1994,Putera benar-benar mengaktualisasikan kapasitas kepemimpinan dan naluri bisnisnya secara penuh.  Dia pun merekrut profesional dalam negeri dan mancanegara untuk mendampinginya mengembangkan dan menggenjot kinerja perusahaan.
Sungguh, perusahaan keluarga ini dikelola secara profesional dengan dukungan manajer profesional.  Perusahaan ini juga go public, sahamnya menjadi unggulan di bursa efek Jakarta dan Surabaya.  Ibarat sebuah kapal yang berlayar di samudera luas berombak besar, PT HM Sampoerna berhasil mengarunginya dengan berbagai kiat dan inovasi kreatif.
Tidak hanya gemilang dalam melakukan inovasi produk inti bisnisnya, yakni rokok, namun juga berhasil mengekspansi peluang bisnis di segmen usaha lain, di antaranya dalam bidang supermarket dengan mengakuisisi Alfa dan sempat mendirikan Bank Sampoerna akhir tahun1980-an.
Di bisnis rokok, HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air, yakni rokok rendah tar dan nikotin.  Pada tahun 1990-an, itu Putera Sampoerna dengan kreatif mengenalkan produk rokok terbaru: A Mild.  Kala itu, Putera meluncurkan A Mild sebagai rokok rendah nikotin dan “taste to the future”, di tengah ramainya pasar rokok kretek.  Kemudian perusahaan rokok lain mengikutinya.
Dia memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan.  Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya.  Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Langkahnya yang paling sensasional sepanjang sejarah sejak HM Sampoerna berdiri tahun 1913 adalah keputusannya menjual seluruh saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk (40%) ke Philip Morris International, Maret 2005.
Keputusan itu sangat mengejutkan pelaku bisnis lainya.  Sebab, kinerja HM Sampoerna kala itu (2004) dalam posisi sangat baik dengan berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp15.000.000.000.000 dengan nilai produksi 41,2 miliar batang.  Dalam posisi ketiga perusahaan rokok yang menguasai pasar, yakni menguasai 19,4% pangsa pasar rokok di Indonesia, setelah Gudang Garam dan Djarum.
Mengapa Putera melepas perusahaan keluarga yang sudah berumur lebih dari 90 tahun ini?  Itu pertanyaan yang muncul di tengah pelaku bisnis dan publik kala itu.
Belakangan publik memahami visi Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Majalah Warta Ekonomi ini ((Warta Ekonomi 28 Desember 2005). Dia melihat masa depan industri rokok di Indonesia akan makin sulit berkembang.  Dia pun ingin menjemput pasar masa depan yang hanya dapat diraihnya dengan langkah kriatif dan  revolusioner dalam bisnisnya.  Secara revolusioner dia mengubah bisnis intinya dari bisnis rokok ke agroindustri dan infrastruktur.  Hal ini terungkap dari langkah-langkahnya setelah enam bulan melepas saham di PT HM Sampoerna.  Juga terungkap dari ucapan Angky Camaro, orang kepercayaan Putera: “Arahnya memang ke infrastruktur dan agroindustri.”
Terakhir, di bawah bendera PT Sampoerna Strategic dia sempat berniat mengakuisisi PT Kiani Kertas, namun untuk sementara dia menolak melanjutkan negosiasi transaksi lantaran persyaratan yang diajukan Bank Mandiri dinilai tak sepadan.  Dia pun dikabarkan akan memasuki bisnis jalan tol, jika faktor birokrasi dan kondisi sosial politik kondusif.
Nama
Putera Sampoerna
Lahir
Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947
Isteri:
Katie
Anak:
Michael Sampoerna
Ayah:
Aga Sampoerna (Liem Swie Ling)
Kakek:
Liem Seeng Tee
Pekerjaan
– CEO PT Sampoerna Strategic
– Presiden Komisaris PT HM Sampoerna
Pendidikan
– Diocesan Boys School, Hong Kong
– Carey Grammar High School, Melbourne
– University of Houston, Texas, AS
Pengusaha Muda Sukses – Mesin Jahit,Anak,dan Kue Kering
Jalan berliku dijalani sejumlah pengusaha dalam membangun bisnis. Namun,lewat kerja keras dan inovasi, sukses kini diraih.  Ada anggapan yang menyebutkan, berwirausaha atau menjadi pengusaha adalah persoalan bakat.  Ternyata anggapan itu salah.  Berwirausaha bisa dipelajari dan dilakukan siapa saja.  Semua orang berkesempatan sama untuk menjadi pengusaha sukses.
Namun dengan catatan, dalam menjalankannya harus didasari cinta dan minat yang mendalam.  Itu akan memacu seseorang untuk mencurahkan segala perhatian dan energi agar usahanya berhasil.  Strategi ini menjadi kunci keberhasilan Marius Widyarto yang sukses berbisnis industri garmen dengan produk kaos Caladi 59(C59).
Merek kaos C59 diambil dari nama sebuah gang kecil di Kota Bandung.   Melalui bendera PT Caladi Lima Sembilan, Marius berhasil membangun merek yang diminati masyarakat.  Kini usahanya sudah memiliki delapan kantor cabang pemasaran yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Indonesia memiliki jumlah penduduk sekitar 230 juta jiwa yang semuanya dipastikan membutuhkan kaos,”tandasnya.  Dalam menjalankan bisnis, Marius menggunakan resep ”sirik”(suka,imajinasi,relasi, inisiatif, dan komunikasi).
Bermodalkan kesukaan, kata Marius, dia memahami betul apa yang sedang dikerjakan.  Dengan begitu celah bisnis yang belum dilirik orang pun bisa dideteksi.  Ketika awal membangun bisnis pada 1980, Marius mengandalkan desain kreatif yang belum banyak digarap orang.
Saat membangun usahanya, Marius hanya bermodalkan sebuah mesin jahit yang didapat dari hasil menjual kado pernikahan.  Lewat koleganya dia juga menggadaikan ijazah SMA ke pabrik agar bisa mendapat suplai bahan baku. Jika bukan atas dasar kepercayaan, pabrik kain tersebut tidak akan memberikan pinjaman bahan baku,” kenangnya saat dihubungi SINDO.
Saat memperkenalkan produk C59 secara massal, Marius bekerja sama dengan penyelenggara Pameran Dirgantara di Bandung pada tahun 1986.  Saat itu dia menawarkan produk kaos dengan desain tema-tema kedirgantaraan. Ternyata, desain kaos pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Parahyangan Bandung 1980 itu laku keras.  Dia pun kebanjiran pesanan.  Lewat kaos C59, kini Mas Wid begitu dia biasa disapa, bisa meraup omzet sekitar Rp 5.600.000.000 miliar per tahun.
Inovasi
Inovasi menjadi modal utama Yesaya Surya Widjaya, pemilik PT Raja Baksomas Mandiri dalam menjalankan usaha.  Meski hanya melanjutkan usaha keluarga, pria peraih master lulusan Universitas Hawaii Pacific bidang komputer ini justru semakin terpacu berinovasi.  Sebelumnya, usaha keluarga yang dimiliki hanyalah sebuah restoran bakso. Lewat tangan dinginnya, restoran tersebutkinimenjadisebuahindustrimakananbeku(frozen).
Mulai produk berbagai jenis bakso, ayam goreng, hingga sop buntut dalam kemasan beku tanpa bahan pengawet.  Yesaya mulai menjalankan bisnis keluarganya itu sejak tahun 1998.  Dalam pengembangannya, Yesaya mengemas konsep bisnis restoran dalam tiga bentuk yakni Bakso Super Resto, Super Bento,dan RBiz Resto.
Awalnya saya melakukan pengembangan atas produkproduk yang sudah ada. Kemudian saya mulaimengeluarkan produk-produk baru. Inovasi adalah kunci penting dalam melakukan usaha,”paparnya.  Kini dengan bekal keuletan dan kerja keras, PT Raja Baksomas Mandiri telah dipasarkan di 14 resto dengan menggandeng 40 mitra usaha.
Sayap bisnisnya pun telah merambah hampir di seluruh kota di Indonesia, di antaranya Balikpapan- Kalimantan, Medan- Sumatra, Papua, dan beberapa kota di Pulau Jawa antara lain di Tegal, Kudus, Blitar, dan Malang, dengan total omzet sekitar Rp 5.000.000.000,- per tahun. Hal serupa juga dilakukan Herlina Mustikasari Mohammad, pemilik Lembaga Kursus Bahasa Inggris Easy Reader yang juga mengandalkan kekuatan inovasi dalam menjalankan bisnis.
Ide awalnya dari upaya dia membantu anak sulungnya agar bisa cepat belajar membaca bahasa Inggris.  Dari situ, Herlina justru menemukan metode sistem fonik.  Cara ini terbukti jitu membantu anaknya belajar membaca bahasa Inggris dengan cepat.  Tidak hanya itu, temuannya ini justru menjadi ceruk bisnis yang hingga saat ini digeluti.Awalnya Easy Reader hanya dibuka di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) City dan Pamulang Tangerang, kini telah berkembang dengan sistem kemitraan di wilayah Depok, Bogor, dan Jakarta.
Hingga saat ini, Herlina telah membuka delapan buah lembaga pendidikan Easy Reader yang tersebar di Jabodetabek.  Dengan konsep waralaba, kini Herlina berniat semakin memperlebar sayap bisnisnya di kota-kota lain di Indonesia.Usaha yang dibuka sejak tahun 2006 dengan modal awal Rp76.000.000,- juta itu kini telah mendatangkan omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.Modul pembelajaran bahasa Inggris yang ditemukan Herlina cukup membantu pendidikan kursus bahasa Inggris bagi murid-muridnya.
KerjaKeras
Dalam mencapai sukses, kerja keras menjadi modal bagi Andianto Setiabudi, pemilik Cipaganti Group, sebuah bisnis yang kini beromzet sekitar Rp 10.000.000.000,- per bulan.  Meski hanya lulusan SMA, Andianto, pria kelahiran Banjarmasin, 5 Desember 1962 itu,tidak pernah merasa minder dalam menjalankan usaha.
Sejak kecil,Andi, begitu dia biasa disapa sudah akrab dengan dunia pemasaran.  Usai pulang sekolah,Andi kerap membantu ibunya berjualan kue kering.  Pekerjaan ini dilakukannya sejak duduk di bangku SMA. Setelah menamatkan sekolah, Andi enggan mengikuti saran orangtuanya melanjutkan ke perguruan tinggi.
Dia memilih berwirausaha.  Dalam benaknya,uang untuk kuliah lebih baik dijadikan modal usaha.Sejak tahun 1986, dia mulai merintis jual beli mobil. Mobil bekas pertama adalah mobil boks orangtuanya.  Dari hasil penjualan tersebut, dia membeli beberapa mobil bekas untuk dijual lagi.  Namun setelah beberapa tahun bergumul dengan mobil bekas, pasaran mobil second mulai menurun.
Dia pun akhirnya memilih banting setir dengan mulai usaha penyewaan mobil. Kini, Andi juga memiliki usaha yang bergerak di bidang properti.  Berkat kerja kerasnya, dia mendapatkan penghargaan dari Enterprise 50 Award pada tahun 2004 dan Finalis Ernst & Young Entrepreneur of the Year 2005.
Hendy Setiono, Miliarder Muda Indonesia
Tidak ada alasan untuk tidak memulai bisnis, bagi yang merasa masih muda ini contoh yang pas sebagai inspirasi.  Berbisnis tidak mengenal usia dan kondisi.  Asal ada kemauan Insya Allah akan ada jalannya.  Tulisan ini sebagai rangkaian inspiration story yang akan memuat kisah pengusaha sukses dari berbagai latar belakang.  Tulisan ini saya ambil dari situsnya Pak Purdi E Chandra (www.purdiechandra.net) seorang Tokoh yang sangat saya kagumi. Beliau melalui Entrepreneur University telah banyak mencetak pengusaha baru di Indonesia.  Baru-baru ini Pak Purdi mendapat predikat Gila dari Museum Rekor Indonesia karena prestasinya di bidang entrepreneur.
Raih Berkah di Jalur Timur Tengah
Namanya Hendy Setiono, pemuda Alumni Entrepreneur University Surabaya ini masih sangat muda, baru 25 tahun.  Tapi sepak terjang bisnisnya sudah tak diragukan lagi.  Kalau Anda menjumpai mobil Nissan X-Trail bernomor polisi K 38 AB di jalanan, itulah mobil Hendi.  Pelat nomor seharga Rp 16 juta itulah yang membuat orang mudah mengenali dan menyapanya ketika sedang jalan-jalan dengan mobilnya. Biasanya tukang parkir menggoda, bayarnya pakai kebab saja.
Pelat nomor sengaja dibuat K 38 AB untuk mendekati kata kebab.  Berkat kebab inilah namaHendi sebagai pengusahamudasukses,terukir.  Hendy adalah pendiri dan presiden direktur PT Baba Rafi Indonesia.  Kebab Turki Baba Rafi adalah hasil inovasi bisnisnya.  Dia memulai bisnis itu dengan modal hanya Rp 4.000.000. Dia enggan meminta bantuan orang tua. “Itu duit hasil pinjam arek-arek (teman-temannya, Red) dan saudara,” kisahnya.
Outlet makanan ala Timur Tengah itu kini berjumlah 325, membentang dari kawasan super ramai seperti Jakarta hingga pelosok Ambon. Ratusan outlet itu dipantau dan disupervisi dari dua kantor operasional di kawasan Nginden, Surabaya, dan Pondok Labu, Jakarta.  Tahun lalu omzet usahanya mencapai Rp 45 miliar, dan 25 persen di antaranya masuk kantongnya sebagai laba bersih.  Tahun ini omzetnya saya targetkan Rp 60.000.000.000,-.
Apa yang sudah dipunyai Hendy dari keberhasilannya berbisnis? Hendy tampak agak malu menjawab pertanyaan ini. Sekulum senyum kecil dikeluarkannya. “Apa ya? Ehm, ada beberapa, Mas. Alhamdulillah. Masak disebutkan?” katanya masih diiringi senyum.
Dia terbatuk sebentar. agak ragu, tak lama kemudian, Hendy mulai menjawab. “Aset yang pertama saya beli Yamaha Mio,” ujarnya. Dia membeli motor itu beberapa bulan setelah memulai berbisnis. “Ke mana-mana saya pakai motor itu,” tuturnya.
Setahun pertama, Hendi mengaku “hanya” mendapat penghasilan bersih per bulan Rp 20 juta. “Wah, rasanya sudah seneng banget. Baru umur 20 tahun, penghasilan sudah Rp 20 juta sebulan,” ceritanya.
Setelah membeli Yamaha Mio? “Sekarang kasihan motor itu, sudah nggak muat nampung badan saya semakin melar. Jadi, cari motor yang agak gedean, pakai Harley-Davidson,” ujar nominator Asia’s Best Entrepreneur Under 25 versi Majalah BusinessWeek tersebut.
Selain itu, Hendi punya dua rumah; satu di Jakarta dan satu lagi di Surabaya. Di Surabaya, dia membeli rumah di salah satu kawasan elite, Perumahan Bumi Galaxy Permai. Soal rumah yang satu ini, Hendi punya cerita tersendiri. “Ini rumah idaman saya,” tuturnya.
Dulu, cerita Hendi, semasa masih duduk di bangku kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS, setiap pulang dari kampus, Hendi yang kala itu tinggal di Semolowaru, Surabaya, selalu melewati kawasan perumahan itu. Dia sering berhenti sejenak di perumahan elite itu. Saking seringnya mondar-mandir di perumahan itu sepulang dari kampus, dia sampai kenal dengan sejumlah satpam di sana. “Rumahnya besar-besar, megah-megah. Kelak saya ingin punya rumah seperti ini,” tekadnya ketika itu.
Hendi mengaku terkagum-kagum dengan rumah-rumah di kawasan itu. “Bahkan, hujan saja nggak banjir, beda dengan rumah saya. Halaman depannya itu lebih luas daripada rumah saya di Semolowaru,” kisahnya.
Dari proses itulah Hendi yakin bahwa mimpi yang terus disemai akan bisa mewujud jika diiringi pancangan semangat yang kuat untuk mewujudkannya. “Semuanya berangkat dari impian. Alhamdulillah, saya kemarin berangkat ke Jakarta (wawancara dengan Hendi dilakukan di Jakarta beberapa waktu lalu, Red) sudah dari rumah di Galaxy Bumi Permai,” ceritanya. “Kalau saya tidak berani mulai jualan pakai gerobak, semua mimpi itu hanya tinggal mimpi,” imbuhnya.
Dengan segala apa yang dimiliki kini, Hendi lebih leluasa menyalurkan hobinya berjalan-jalan. Setiap mengisi seminar di berbagai kampus di Indonesia, dia selalu menyempatkan diri mengunjungi berbagai tempat wisata. “Saya lebih suka ke tempat wisata yang alami, lihat pantai, lihat hutan,” ujarnya.
Jalan-jalan ke luar negeri juga sudah menjadi rutinitas yang sangat biasa bagi salah satu 10 Tokoh Pilihan 2006 versi majalah Tempo tersebut. “Dulu jalan-jalan ke luar negeri itu jadi mimpi, sesuatu yang wah, seolah nggak terjangkau. Alhamdulillah, sekarang udah sering,” tuturnya.
Hendy tak melupakan sedekah. Dananya secara tetap didonasikan ke tujuh yayasan yatim-piatu. “Saya menyadari sulitnya kehidupan mereka karena orang tua saya juga bukan orang kaya,” katanya. Dia yakin, jika seseorang tak perhitungan dalam sedekah, rezeki yang diberikan Tuhan akan terus mengalir. “Saya yakin istilah inden rezeki. Orang biasanya membayar zakat 2,5 persen dari keuntungan. Saya membaliknya, sebelum ada untung, harus bayar zakat dulu,” ujarnya. “Pokoknya, kalau omzet turun, kita hajar dengan sedekah,” imbuhnya.
Di luar itu Hendy hampir tidak pernah menghambur-hamburkan uang untuk hobi yang tidak jelas. Misal, clubbing di tempat hiburan malam. “Kalau jalan-jalan ke mal, itu rutin. Tapi, saya dan keluarga tidak konsumtif. Paling-paling hanya lihat tren fashion saat ini untuk diterapkan ke bisnis saya. Misalnya, untuk desain pakaian karyawan dan outlet-outlet,” ujar pria kelahiran 30 Maret 1983 itu. Ketika jalan-jalan itu, Hendi tak khawatir dengan roda bisnisnya. “Owner-nya bisa jalan-jalan, yang mantau manajemen di Surabaya dan Jakarta.”
Hendy lebih suka memakai uangnya untuk melebarkan sayap bisnis. Dia yakin bahwa tak boleh ada kata berpuas diri dalam jiwa seorang pebisnis. Dia kini meretas gerai Roti Maryam Aba-Abi, roti khas Timur Tengah. “Sekarang baru 40 outlet, mayoritas masih di Jatim,” kata Hendi yang, bersama aktris Dian Sastro dan Artika Sari Devi, menjadi duta Wirausaha Muda Mandiri tersebut.
Tak hanya itu, insting bisnis yang kuat membawa pria berbadan subur itu mendirikan Baba Rafi Palace. Sudah dua pondokan megah yang disewakan di Surabaya. “Di Siwalankerto, ada 18 kamar dengan tarif Rp 700 ribu per bulan per kamar. Lalu di Prapanca ada 16 kamar, tarifnya Rp 1,2 juta per bulan,” ujarnya.
Satu lini bisnis makanan juga sedang disiapkan Hendy. “Lagi ngerjakan Piramida Pizza. Kalau biasanya pizza ditaruh loyang, ini mau ditaruh di cone. Jadi, makan pizza bisa sambil jalan-jalan, seperti makan es krim,” terang bapak dengan tiga anak itu.
Dia juga bakal berekspansi ke luar negeri. “Di Malaysia saya baru aja bikin Baba Rafi Malaysia Sdn Berhad. Target awalnya mendirikan 25 outlet kebab,” ujarnya.
Dari UKM(elarat) ke UKM(iliaran)
Hendy memulai bisnis dengan terseok-seok. “Tentu tidak langsung bombastis seperti sekarang. Saya harus jatuh bangun, berdarah-darah.” Dia mengisahkan, saat baru dua minggu berjualan kebab dengan satu gerobak di kawasan Nginden, Surabaya, orang yang diajaknya berjualan sakit.
Dari semula berjualan berdua, dia pun memutuskan menunggui gerobaknya seorang diri. “Ndilalah hari itu hujan deras, jadi sepi,” ceritanya. Untuk menghibur diri, hasil jualan hari itu dibelikan makanan di warung sebelah tempat gerobaknya berdiri. “Di sana ada warung sea food. Saat saya membayar, eh ternyata lebih mahal daripada hasil jualan saya. Jadi, malah rugi,” kisahnya.
Hendy memulai bisnis kala berusia 20 tahun. Dia berhenti kuliah di Jurusan Teknik Informatika ITS saat masuk tahun kedua. “Belum sempat di-DO (drop out, Red), saya OD, out dhewe (keluar sendiri, Red),” ujarnya lantas tertawa.
Ibunya yang pensiunan guru dan bapaknya yang bekerja di sebuah perusahaan di Qatar shock melihat keputusan Hendy. “Orang tua saya ingin saya selesai kuliah, lalu kerja di perusahaan. Bukan malah jualan pakai gerobak,” katanya. Namun, Hendi bergeming. “Setelah berhasil, orang tua malah ingin ikut-ikutan berbisnis,” kata ayahanda Rafi Darmawan, 5, Reva Audrey Sahira, 3, dan Ready Enterprise, 1.
Kini bisnisnya terus membesar. Dari hanya satu karyawan, kini perusahaannya mempekerjakan 700 karyawan. “Yang jadi manajemen inti 200 orang. Semuanya lulusan S1 dan S2,” ceritanya, bangga.
Dia mengibaratkan perjalanan bisnisnya dengan dua istilah UKM yang berbeda. “Dulu kami hanya UKM, usaha kecil melarat. Sekarang masih UKM, tapi usaha kecil miliaran,” tuturnya.
Sekarang ada satu mimpi yang bakal diwujudkan tahun ini. “Saya ingin mengajak semua keluarga jalan-jalan ke Eropa.”
KISAH usaha yang dimulai dari nol, lalu menuai sukses, mungkin bukan hal baru. Berwirausaha dari nol bukanlah sebuah perkara mudah.
Di tengah jalan, selalu saja muncul berbagai rintangan. Tetapi kisah perjalanan bisnis mereka yang merintis usaha dari nol kemudian mencapai sukses tetap menarik untuk disimak. Terlebih jika kisah tersebut dilakoni mereka yang berusia muda. Lantas, apa rahasia sukses para pengusaha muda?
Meminjam istilah Jennie S Bev, penulis juga pengajar asal Indonesia yang bermukim di California, Amerika Serikat (AS) dalam pengantar buku Kumpulan Kisah Para Pengusaha Muda yang Sukses Berbisnis dari Nol, Rahasia Jadi Entrepreneur Muda (DAR! Mizan, 2008) karya Faif Yusuf, untuk berwirausaha sebenarnya sangat mudah, yaitu dengan meningkatkan mindset dan mulai membuka bisnis sendiri.
Dalam pandangan Jennie, setiap orang adalah personifikasi sukses itu sendiri. Sebab, success is a mindset, it is not a journey or destination (sukses adalah cara berpikir atau bersikap, bukan perjalanan maupun tujuan). Tetapi anggapan di masyarakat masih lazim ditemukan bahwa berwirausaha identik dengan para pengusaha besar dan mapan. Tidak jarang pula yang beranggapan bahwa wirausaha semata-mata hanya untuk mengejar kekayaan.
Itu sebabnya, jika berbicara tentang sosok pengusaha sukses, yang selalu dijadikan barometer adalah bagaimana para pengusaha itu menciptakan kekayaan melimpah melalui bisnis yang dibangun. Padahal tidak selalu demikian. Menurut pengusaha muda ternama, Sandiaga Salahudin Uno, keberanian dan optimisme merupakan modal awal yang harus dimiliki seseorang untuk menekuni wirausaha.
Setelah itu, kata pria yang kerap disapa Sandi ini, memilih usaha sesuai minat dan bakat dengan melihat peluang di pasar. Dengan minat yang besar, akan timbul gairah dan semangat menjalani, memelihara, dan membesarkannya.
“Terakhir, just do it now. Jangan terlalu berhitung, putuskan, mulai, dan kerjakan sekarang juga!” ungkap mantan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) periode 2005-2008 ini. Optimisme yang diungkapkan Sandi tampaknya menjadi modal utama sejumlah pengusaha muda sukses. Sebut saja Henry Indraguna, pemilik The Auto Bridal Indonesia, tempat cuci mobil “busa salju”.
Sebelum mendirikan tempat cuci mobil yang kini beromzet Rp7,5 miliar per bulan,pria kelahiran Bandung,28 Agustus 1973 ,ini jatuh bangun dalam berusaha. Berbagai bentuk usaha dijalaninya, tetapi berkali-kali juga dia bangkrut dan kembali ke titik nol. Pria lulusan Universitas Maranatha Bandung yang semasa kuliah pernah berjualan ayam goreng ini pernah menjadi salesman berbagai produk elektronik hingga mainan.
Dia pernah menjadi salesman besar produk mainan asal China yang menyuplai ke beberapa toko mainan di Bandung. Bahkan, seusai lulus kuliah Henry pernah dipercaya mendistribusikan kartu chip Telkom senilai Rp20 miliar. Tetapi hasil kerja kerasnya lindap dalam sekejap akibat kebiasaannya berfoya-foya. Kebiasaan buruk itu pun sirna setelah dia menikahi Fangky Christina pada 2003.
Berkat ide membuka usaha cuci mobil dari mertuanya dengan bermodalkan Rp150 juta, dia mulai membuka usaha cuci mobil pada akhir 2003. “Jumlah ini sebenarnya cukup kecil untuk membuka usaha,” ujar Henry. Dari modal sebesar itu, Rp35 juta dia gunakan untuk menyewa tempat seharga Rp75 juta. Sisanya dibayar setelah tiga bulan usahanya berjalan.
Sisa dari modal untuk peralatan. Tetapi Henry terpaksa berutang untuk menutupi kekurangan biaya peralatan. Pada awalnya usaha Henry kurang diminati masyarakat. Tetapi bagi Henry hal itu adalah part of game yang harus dilaluinya. Keinginannya untuk mengubah citra tempat cuci mobil, yang kotor menjadi bersih dan nyaman, diwujudkan dengan inovasi cuci salju lewat The Auto Bridal.
Henry pun terus melakukan inovasi dalam bisnisnya mulai cuci mobil es krim, salon mobil, motor bridal. Setiap bulan, The Auto Bridal Indonesia minimal melayani 120.000 mobil dengan ongkos cuci Rp35 ribu per mobil.
“Biasanya keuntungan yang didapat 100 persen dari modal,” papar Henry. Henry meraih penghargaan Outstanding Entrepreneurship Award Asia Pacific Entrepreneurship Award (AFEA) 2008. The Auto Bridal Indonesia saat ini sudah mempunyai 84 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Henry kini sedang berupaya melebarkan sayap bisnisnya ke negeri jiran Malaysia.
Kisah sukses lainnya ditunjukkan Yesaya Surya Widjaya, pemilik PT Raja Bakso          mas Mandiri yang kini sudah memiliki 14 restoran dan 40 mitra. Yesaya, pria peraih master lulusan Hawaii Pacific University bidang komputer, mengembangkan bakso dan makanan beku (frozen food) dengan aneka rasa seafood. Yesaya awalnya hanya menjalankan bisnis orangtuanya yang dibangun pada 1982.
Karena sering membantu melayani pelanggan sejak kecil, pria kelahiran Jakarta, 31 Januari 1971, ini sangat akrab dengan dunia kuliner. Setelah menamatkan pendidikan S-2 pada 1998, Yesaya mulai mempelajari manajemen kerja restoran. Dari situlah dia mengamati kegemaran masyarakat terhadap selera makan yang akhirnya menginspirasi mengembangkan usaha bakso dengan aneka rasa.
Pada 2002 dia mulai membuka gerai baksonya secara serius dengan bendera PT Raja Baksomas Mandiri. Awalnya dia membuka lima gerai di kawasan Dunia Fantasi, Ancol, Jakarta Utara, dan satu gerai di Kemayoran. Untuk membuka gerai di Kemayoran, Yesaya dibantu modal dari orangtuanya sebesar Rp55 juta.Yesaya juga berinovasi dengan membuat makanan beku.
Kini lewat usahanya,Yesaya bisa meraih omzet Rp 200.000.000 per bulan.  Kisah-kisah sukses yang ditunjukkan Henry dan Yesaya seperti juga diungkapkan Faif dalam bukunya. Keberhasilan berwirausaha tidaklah semata-mata dinilai dari seberapa berhasil seseorang mengumpulkan kekayaan, tapi lebih bagaimana seseorang bisa membentuk, mendirikan, dan menjalankan usaha dari sesuatu yang tidak ada sebelumnya atau belum berjalan.



Indonesia memiliki banyak pengusaha top dan terkenal, diantara mereka masih berusia muda namun memiliki materi yang luar biasa atau dapat dikatakan sudah sukses secara finansial. Salah satunya adalah seorang pengusaha muda Sandiaga Salahuddin Uno. Beliau adalah mantan ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) sebuah organisasi yang berisi lebih dari 30.000 pengusaha muda di Indonesia, dan kini menjadi ketua KADIN (Kamar Dagang Indonesia).

Perjalanan bisnisnya memang begitu panjang dan berliku, Sandiaga Uno bukanlah orang yang sudah biasa berkecimpung di dunia bisnis sejak kecil atau punya keturunan pengusaha ataupun punya modal besar dari orang tuanya. Dia hanyalah orang biasa, bahkan orang tuanya pun lebih memilih bekerja di perusahaan ketimbang jadi pengusaha.

Namun karena punya jiwa bisnis yang tinggi, dia berhasil melihat dan menyulap peluang-peluang usaha dan menjadikan ladang uang yang hingga kini terus dipanennya. Namun sekali lagi, semua itu tidak didapat dengan cara instan, berikut ini kisah sukses yang dijalani oleh Sandiaga Salahuddin Uno yang saya kutip dari website ciputraentrepreneurship.com, silahkan disimak.

Di Indonesia, relatif amat susah mencari orang sukses dalam usia yang relatif muda, setidaknya dalam usia di bawah 40 tahun. Namun demikian, diantara susahnya menemukan orang sukses tersebut, muncul milyarder muda, Sandiaga Salahuddin Uno.

Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Hipmi (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) pasti kenal dengan sosok Sandiaga S. Uno. Dia telah lengser dari jabatan ketua umum pusat organisasi yang beranggota lebih dari 30 ribu pengusaha itu.

Sandi–demikian penyandang gelar MBA dari The George Washington University itu biasa disapa–tercatat sebagai orang terkaya ke-63 di Indonesia versi Globe Asia. Kekayaannya 245 juta dolar AS.
Sandi menyatakan tak disiapkan untuk menjadi pebisnis oleh orangtuanya. ”Orangtua lebih suka saya bekerja di perusahaan, tidak terjun langsung menjadi wirausaha,” ujar pria penggemar basket itu.
”Menjadi pengusaha itu pilihan terakhir,” akunya. Karena itulah, dia tak berpikir menjadi pengusaha seperti yang telah dilakoni selama satu dekade ini. ”Saya ini pengusaha kecelakaan,” katanya, lantas tertawa.

Kiprah bisnis Sandi kini dibentangkan lewat Grup Saratoga dan Recapital. Bisnisnya menggurita, mulai pertambangan, infrastruktur, perkebunan, hingga asuransi. Namun, dia masih punya cita-cita soal pengembangan bisnisnya. “Saya ingin masuk ke sektor consumer goods. Dalam 5-10 tahun mendatang, bisnis di sektor tersebut sangat prospektif,” katanya, optimistis.

Seorang pebisnis, kata dia, memang harus selalu berpikir jangka panjang. Bahkan, berpikir di luar koridor, berpikir apa yang tidak pernah terlintas di benak orang. “Mikir-nya memang harus jangka panjang.”
Dia mencontohkan, dirinya masuk ke sektor pertambangan awal 2000. Saat itu, sektor tersebut belum marak seperti saat ini. ”Jadi, ketika sektor itu sekarang naik, kami sudah punya duluan,” ujarnya.

Sandi semula adalah pekerja kantoran. Pascalulus kuliah di The Wichita State University, Kansas, Amerika Serikat, pada 1990, Sandi mendapat kepercayaan dari perintis Grup Astra William Soeryadjaja untuk bergabung ke Bank Summa. Itulah awal Sandi terus bekerja sama dengan keluarga taipan tersebut. ”Guru saya adalah Om William (William Soeryadjaja-Red),” tutur pria kelahiran 28 Juni 1969 itu.

Bapak dua anak itu kemudian sedikit terdiam. Pandangannya dilayangkan ke luar ruang, memandangi gedung-gedung menjulang di kawasan Mega Kuningan. ”Saya masih ingat, sering didudukkan sama beliau (William Soeryadjaja-Red). Kami berdiskusi lama, bisa berjam-jam. Jiwa wirausahanya sangat tangguh,” kenangnya. William tanpa pelit membagikan ilmu bisnisnya kepada Sandi. Dia benar-benar mengingatnya karena itulah titik awal dia mengetahui kerasnya dunia bisnis.

Di Tanah Air, Sandi hanya bertahan satu setengah warsa. Dia harus kembali ke AS karena mendapat beasiswa dari bank tempatnya bekerja. Dia pun kembali duduk di bangku kuliah di George Washington University, Washington. Saat itulah, fase-fase sulit harus dia hadapi. Bank Summa ditutup. Sandi yang merasa berutang budi ikut membantu penyelesaian masalah di Bank Summa.

Sandi kemudian sempat bekerja di sebuah perusahaan migas di Kanada. Dia juga bekerja di perusahaan investasi di Singapura. ”Saya memang ingin fokus di bidang yang saya tekuni semasa kuliah, yaitu pengelolaan investasi,” tuturnya.

Mapan sejenak, Sandi kembali terempas. Perusahaan tempat dia bekerja tutup. Mau tidak mau, dia kembali ke Indonesia. ”Saya berangkat dari nol. Bahkan, kembali dari luar negeri, saya masih numpang orangtua,” katanya. Sandi mengakui, dirinya semula kaget dengan perubahan kehidupannya. ”Biasanya saya dapat gaji setiap bulan, tapi sekarang berpikir bagaimana bisa bertahan,” tutur pria kelahiran Rumbai itu. Apalagi, ketika itu krisis.

Dia kemudian menggandeng rekan sekolah semasa SMA, Rosan Roeslani, mendirikan PT Recapital Advisors. Pertautan akrabnya dengan keluarga Soeryadjaja membawa Sandi mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya bersama anak William, Edwin Soeryadjaja. Saratoga punya saham besar di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan batu bara terbesar kedua di Indonesia yang punya cadangan 928 juta ton batu bara.

Bisa dibilang, krisis membawa berkah bagi Sandi. ”Saya selalu yakin, setiap masalah pasti ada solusinya,” katanya. Sandi mampu ”memanfaatkan” momentum krisis untuk mengepakkan sayap bisnis. Saat itu banyak perusahaan papan atas yang tersuruk tak berdaya. Nilai aset-aset mereka pun runtuh. Perusahaan investasi yang didirikan Sandi dan kolega-koleganya segera menyusun rencana. Mereka meyakinkan investor-investor mancanegara agar mau menyuntikkan dana ke tanah air. ”Itu yang paling sulit, bagaimana meyakinkan bahwa Indonesia masih punya prospek.”

Mereka membeli perusahaan-perusahaan yang sudah di ujung tanduk itu dan berada dalam perawatan BPPN -lantas berganti PPA-. Kemudian, mereka menjual perusahaan itu kembali ketika sudah stabil dan menghasilkan keuntungan. Dari bisnis itulah, nama Sandi mencuat dan pundi-pundi rupiah dikantonginya.
Sandi terlibat dalam banyak pembelian maupun refinancing perusahaan-perusahaan. Misalnya, mengakuisisi Adaro, BTPN, hingga Hotel Grand Kemang. Dari situlah, kepakan sayap bisnis Sandi melebar hingga kini.

Sumber :  ciputraentrepreneurship.com


VIVAnews - Sejumlah wirausahawan muda mandiri berbagi pengalaman dan kunci agar bisa sukses dalam menjalankan bisnis.

Mereka yang berbagi adalah Brian Arfi Faridhi, Tririan Arianto, Iin Budianto, dan Zainal Abidin di acara seminar “Berbisnis Bisa! Saya Bisa Anda pun Bisa!” di Elemen Café Surabaya beberapa waktu lalu. Keempatnya adalah wirausahawan yang sukses di bidangnya masing-masing dan mendapatkan penghargaan dari Bank Mandiri pada 2009.

Menurut Brian, CEO PT DheZign Online Solution, menjadi seorang entrepreneur tidaklah mudah, banyak yang mencoba banyak pula yang gagal. Namun dengan fokus, keuletan dan ketekunan, persoalan itu akan teratasi dan jalan pun akan terbuka.

“Dalam bisnis hanya satu yang pasti, yaitu kegagalan. Namun kegagalan tersebut akan menghasilkan ketika kita terus mencoba dan mencoba,” tutur Juara Wirausaha Muda Mandiri kategori industri kreatif mahasiswa ini.

Tririan, pemilik PT Mushroom Indonesia yang memenangkan kategori kuliner mengaku memulai usaha dari nol. "Namun dengan ketekunan, kerja keras, doa dan berbagi kepada sesama mampu mengantarkan saya hingga ke titik ini.”

Selain tekun dan ulet, rahasia lainnya adalah saling berbagi lewat komunitas seperti komunitas Tangan Di Atas (TDA) yang menjadi kumpulan para pengusaha UKM. Di sini, setiap orang bisa saling berbagi baik kesuksesan maupun kegagalan.

Keduanya, juga aktif dan bergabung di komunitas ini untuk mengembangkan bisnis. "Outlet bisnis saya meroket dari 3 outlet menjadi 10 outlet dalam 3 bulan," kata Tririan.

Iin Budianto, pengusaha makanan dan pengusaha komputer ini mengaku pendapatannya meningkat hingga Rp 40 juta per bulan. Awalnya Iin adalah seorang karyawan dengan gaji yang tetap.

lebih banyak lagi 25 pengusaha sukses klik disini http://anwar-lahai.blogspot.com/2012/02/kisah-25-pengusaha-muda-yang-sukses.html